Penyakit Gumboro Pada Burung Puyuh

penyakit gumboro puyuh
Pengertian penyakit gumboro (infectious bursal disease )
Gumboro adalah penyakit yang menyerang bursa fabricii (kelenjar bulat terletak di atas kloaka), Gumboro Penyakit Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD) yang ditemukan pertama kali di Delaware USA sekitar tahun 1950-an, sampai saat ini masih kerap muncul di lapangan.
Terutama pada masa peralihan musim seperti sekarang ini, kasus lebih sering banyak muncul.
Kondisi lingkungan dan cuaca yang cepat berubah meningkatkan cekaman pada burung puyuh.
penyebabnya adalah virus gumbaro yang tergolong sebagai reovirus yang lebih banyak berlokasi di bursa fabricii.

Gejala penyakit gumboro pada burung puyuh :

Harga Burung Puyuh ✔ Puyuh tampak lesu
✔ Mengantuk
✔ Bulu mengkerut
✔ Bulu sekitar dubur kotor
✔ Mencret keputih-putihan
✔ Suka mematuki duburnya sendiri, sehingga menimbulkan luka.
✔ Puyuh yang mati bangkainya cepat sekali membusuk.

Gumboro (infectius bursal disease) akhir-akhir ini mulai dikenal di Indonesia.
Virus gumbaro ini menyerupai virus infectious bronchitis (I.B)akan tetapi tidak ada hubungannya dengan I.B,juga tidak ada kekebalan silang antara I.B dengan penyakit gumboro.
Masa tunas penyakit ini antara 18-36 jam, dan kematin terjadi pada hari ke-3 sampai hari ke-5.

Untuk dapat mendiagnosa penyakit ini kita harus mengetahui apa dan dimana bursa fabricii ini.
Bursa fabricii adalah kelenjar yang berbentuk bulat, terletak diatas cloaca (proctodium).
Dalam keadaan normal Bursa fabricii akan mulai mengecil dan selanjutnya mulai menghilang pada puyuh dewasa.

Gejala-gejala klinis penyakit gumboro pada burung puyuh
Penyakit gumboro adalah penyakit yang akut, sangat menular dan hanya menyerang puyuh yang belum dewasa, yAkni selama Bursa fabricii tadi masih belum hilang dari tubuh puyuh.
Penyakit ini sebagai wabah yang dapat timbul tiba-tiba.
Pemeriksaan patologi-anatomik akan memperlihatkan perubahan-perubahan sebagai berikut:
  1. Bursa fabricii membesar 2-3 kali normal, oedema ( membusung ) pendarahan, berlendir dan ada yang mengiju.
  2. Ada pendarahan pada urat daging, terutama dipaha sebelah lateral (sisi luar ) dan medial ( sisi dalam 0 sayap otot dada dan selaput lender berbatasan proventriculus dan gizzard ( empedal ).
  3. Terlihat pembesaran hati dan limpa.
  4. Terjadi kerusakan epiteel ginjal, terutama tubuli.
PENYEBARAN PENYAKIT GUMBORO PADA BURUNG PUYUH
Harga Daging Puyuh Seluruh burung puyuh dalam kandang dapat ketularan penyakit gumboro dari satu puyuh ke puyuh lainnya sangat cepat dalam waktu singkat.
Kematian terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5.
Penybaran benih-benih penyakit melalui makanan,air minum, alat-alat dan tempat-tempat yang tercemar oleh faeces dan makanan yang dimuntahkan.
Peternakan burung puyuh yang pernah terjangkit Virus akan tetap inaktip dan berdiam dalam peternakan dalam waktu yang lama.
Menurut penelitian virus gumboro dapat hidup sampai 122 hari.
Tidak ada carrier ( hewan yang sembuh dan mengandung virus yang dapat ditularkan ).

PENGOBATAN PENYAKIT GUMBORO PADA BURUNG PUYUH
Oleh karena penyakit gumboro disebabkan oleh virus, maka tidak ada obat-obat yang khusus untuk penyakit ini.
Antibiotika, sulfonamide dan Nitrofuran tidak mempunyai efek atau bahkan sama sekali tidak berdaya terhadap penyakit ini.
Dapat dicoba pengobatan vitamin-elektrolit yang rupa-rupanya sedikit menolong burung puyuh yang sakit.
Wabah penyakit ini akan berlangsung selama 4-7 hari, dan jika dalam ginjal sudah terdapat banyak asam urat dan ada nephritis dan nephrosis, perlu diberikan air minum yang dicampur dengan molase sebanyak kurang lebih 10%(kira-kira 1 mangkuk molase tiap-tiap 5 galon air), biasanya dapat menolong dari kematian.
Kadar antibiotik yang tinggi pada ransum adalah kotraindikasi (tidak diperbolehkan), sebab akan mengikat calcium, sehingga malah akan berakibat timbulnya poenyakit rachitis (tulang ).
Disinfeksi terus-menerus, alat-alat maupun bangunan-bangunan terhadap pencemaran virus gumboro sangat diperlukan, sampai burung puyuh yang sakit sembuh semua.

PENCEGAHAN PENYAKIT GUMBORO PADA BURUNG PUYUH
Tata laksana yang baik, kebersihan dan pencegahan alat-alat terhadap pencemaran virus gumboro sangat penting untuk mencegah dan mengurangi kejadian penyakit ini.
Cara yang mudah untuk mencegah penyakit gumoro adalah dengan penerapan bio-security.

STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT GUMBORO PADA BURUNG PUYUH
Cara mengurangi resiko rugi oleh tingginya tingkat kematian karena penyakit ini, maka prioritasnya adalah pencegahan.
Meminimalisir dan mengeliminasi faktor pencetus munculnya penyakit ini di lapangan merupakan hal yang sangat penting.
Munculnya kasus Gumboro dipicu oleh beberapa hal yang saling berkaitan diantaranya yaitu :
  1. Kualitas burung puyuh
    Peternak tidak mempunyai kendali pada kualitas burung puyuh yang dibelinya.
    Mereka hanya bisa memilih mana yang dianggap baik ataupun tidak, berdasarkan pengalaman sendiri dan referensi dari peternak lain.
    Burung puyuh yang berkualitas baik merupakan hasil dari suatu proses panjang di tingkat pembibit.
    Ditentukan dari saat masih berupa telur di dalam tubuh induk, proses koleksi telur tetas, penetasan hingga sampai di tangan peternak.
    Indukan yang sehat dengan pakan yang mengandung nutrisi seimbang dan bebas dari mikotoksin, lingkungan kandang yang bersih, serta proses koleksi, penyortiran telur yang akan masuk ke hatchery secara ketat akan menghasilkan DOQ (anak puyuh) yang berkualitas.
    Dan dibarengi dengan manajemen transportasi yang baik dari hatchery hinggá sampai ke tangan peternak akan menjamin kualitas burung puyuh tersebut.
    Untuk mendapatkan DOQ yang sehat seperti di atas didapat dari telur tetas yang beratnya sudah memenuhi syarat untuk ditetaskan dan berasal dari induk yang tidak terlalu tua ataupun muda, telur tetas bersih, utuh tidak retak ataupun cacat dengan lingkungan kandang yang bersih dan proses penetasan yang baik dan benar.
    Kondisi ini akan menyebabkan gangguan proses penyerapan kuning telur yang notabene merupakan sumber makanan di awal kehidupan burung puyuh dan juga maternal antibodi yang diturunkan dari induknya.
    Atau bisa juga telur tercemar spora jamur Aspergillus, sp, sehingga anak puyuh bisa terkena Aspergillosis sejak masih embrio.

  2. kualitas pakan
    Biaya yang dikeluarkan peternak sebagian besar untuk biaya pakan burung puyuhnya.
    Pakan burung puyuh yang bagus dipengaruhi oleh bahan pakan yang digunakan untuk membuat pakan tersebut.
    Kandungan protein tercerna yang sesuai dengan kebutuhan burung puyuh dengan komposisi asam amino yang seimbang, demikian juga dengan kadar lemak, energi, serat kasar dan mineral yang imbang sangat penting untuk pertumbuhan burung puyuh.
    Kadar mikotoksin dalam pakan harus diperhatikan, karena akan berpengaruh pada sistem imunitas dan pertumbuhan tubuh puyuh.
    Pada saat musim hujan kita perlu waspada dengan mikotoksin ini.
    Salah satu caranya dengan pengeringan hinggá mencapai kadar air yang rendah, penyimpanan pada ruangan yang kering, penambahan antijamur (asam organik), dan mikotoksin binder (zeolit, bentonit, dll.).
    Proses penyimpanan dan pengangkutan bahan baku atau pakan jadi jika tidak memenuhi stándar juga akan mempengaruhi kualitas pakan.
    Indonesia merupakan negeri tropis dengan curah hujan tinggi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan jamur.
    Temperatur dan kelembaban gudang penyimpan tidak boleh terlalu tinggi, yang ideal disarankan pada suhu tidak lebih dari 240 C dan kelembaban < 17 %.
    Selain itu pemeriksaan sampel bahan baku dan pakan jadi harus dilakukan secara teratur untuk melihat komposisi nutrisi (analisa proksimat) maupun cemaran mikotoksin.

  3. Manajemen pemeliharaan
    Manajemen pemeliharaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha produksi peternakan.
    Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang paling utama adalah menciptakan kondisi dan tempat yang nyaman untuk hidup burung puyuh.
    Jika burung puyuh hidup di kandang yang nyaman, terjaga dari stres lingkungan, kebutuhan oksigen terpenuhi, cemaran gas amonia minimal, tersedia pakan yang berkualitas dan air minum yang bersih sepanjang hari, dan juga dengan pelaksanaan program vaksinasi terhadap berbagai agen infeksius yang tepat diharapkan burung puyuh terhindar dari berbagai stres baik dari lingkungan makro ataupun agen penyakit yang ada.
    Dengan begitu burung puyuh bisa tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan optimal.
    Proses pemeliharaan yang baik dan benar harus dilakukan sejak kedatangan burung puyuh.
    Masa brooding merupakan waktu yang cukup krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan puyuh, sehingga harus dilakukan dengan benar.
    Jika populasi terlalu padat tingkat stress dan daya kompetisi puyuh semakin tinggi dan kecukupan oksigen pun akan berkurang.
    Untuk mempertahankan suhu badan anak puyuh kehangatan ruangan sangat penting karena puyuh tidak dierami oleh induknya dan dan pusat pengatur suhu tubuh puyuh belum berkembang sempurna.
    Selain itu buka tutup tirai harus diatur sedemikian rupa sehingga kesegaran udara dan kecukupan oksigen terpenuhi, selain itu juga untuk menghindari paparan angin yang terlalu dini.

    Pada minggu pertama merupakan masa pertumbuhan DOQ (anak puyuh) yang paling cepat.
    Berat badan DOQ (anak puyuh) bisa mencapai 2 kali lipat dari saat menetasnya.
    Bisa dikatakan saat ini merupakan golden age DOQ (anak puyuh).
    Pada masa ini terjadi pembelahan sel cukup tinggi, sehingga kecukupan oksigen dan nutrisi sangat penting.
    Saat ini juga terjadi penyerapan kuning telur yang di dalamnya terdapat antibodi dari induk.
    Pemberian pakan sesegera mungkin setelah anak puyuh datang akan mempercepat dan mengoptimalkan penyerapan kuning telur.
    Jika pada masa brooding kehidupan anak puyuh terjaga dengan baik, diharapkan penyerapan antibodi induk terhadap IBD yang ada dalam kuning telur bisa sempurna.
    Sehingga burung puyuh bisa mengatasi infeksi IBD dini yang bersifat subklinis.
    Selain itu juga meminimalkan faktor pencetus stres pada puyuh seperti menjaga kecukupan pakan, minum, kecukupan sirkulasi udara, pencahayaan dan ketenangan lingkungan.

  4. Program Kesehatan
    Kasus Gumboro bisa terjadi jika kekebalan puyuh tidak bisa mengatasi serbuan virus lapangan yang masuk ke tubuh puyuh dan virus lapangan lebih cepat sampai di bursa.
    Hal ini bisa terjadi karena kondisi puyuh yang tidak optimal karena stres (manajemen, lingkungan), titer antibodi induk yang rendah, jumlah virus lapangan yang terlalu banyak, strain virus vaksin yang dipakai tidak cocok dengan virus yang ada di lapangan.
    Meminimalisir faktor pencetus stres bagi puyuh sangat penting terutama pada awal kehidupan anak puyuh.
    Jika burung puyuh menderita cekaman baik karena faktor internal ataupun eksternal bisa mengakibatkan daya tahan tubuh ayam menurun.
    Sehingga agen-agen patogen bisa mudah menginvasi tubuh puyuh.
    Jumlah virus di lapangan yang tinggi akan meningkatkan resiko terkena Gumboro.
    Antibodi induk burung puyuh hanya bisa melindungi sampai umur sekitar 2-3 minggu, dan daya netralitasnya pun terbatas, jika agen infeksi yang harus dinetralkan terlalu banyak, jumlah antibodi tidak bisa mencukupi sehingga puyuh akan kalah juga.
    Untuk mengurangi kerja puyuh dalam menetralkan antigen, meminimalkan jumlah virus di lapangan sangatlah penting.
    Ini dilakukan dengan persiapan kandang yang benar-benar baik sebelum kedatangan burung puyuh.
    Sebelum dipakai kandang harus dicuci kering dan basah sampai bersih, kemudian dilakukan desinfeksi berulang.
    Lantai kandang juga harus diperlakukan khusus, setelah dicuci bersih diberi larutan soda api kemudian dicuci ulang.
    Setelah itu diberi larutan kapur hidup.
    Penyemprotan insektisida ke lantai, langit-langit, tiang, dinding dan sekitar kandang perlu dilakukan untuk membunuh serangga seperti semut, kumbang franky (Altophobius, sp) dll yang bisa menjadi reservoir virus IBD.
    Penyemprotan kandang secara rutin setelah puyuh masuk kandang dengan larutan desinfektan (seperti golongan iodin) akan sangat membantu meminimalisir jumlah virus.
    Pemberian antibiotika berspektrum luas selama 3-5 hari pertama kehidupan anak puyuh akan membantu mengeliminasi bakteri yang ada pada anak puyuh, diharapkan akan mengurangi kasus radang omfalitis sehingga penyerapan kuning telur bis optimal.
    Selain itu dengan memperkuat kondisi tubuh anak puyuh dengan pemberian multivitamin secara rutin akan membantu mengurangi pengaruh cekaman pada anak puyuh.
    Pencegahan koksidiosis dengan vaksinasi ataupun pemberian koksidiostat diharapkan bisa meminimalisir kejadian koksidiosis pada burung puyuh dan diharapkan secara tidak langsung akan mengurangi kejadian Gumboro ataupun menurunkan tingkat keparahan koksidiosis.
    Jika burung puyuh terkena koksidiosis pada minggu-minggu awal biasanya resiko terkena Gumboro lebih besar dan parah.

  5. Bio-security
    Biosekuriti merupakan suatu usaha pengamanan biologik yang bertujuan untuk mencegah masuknya agen-agen patologik ke tubuh puyuh.
    Tidak hanya meliputi proses desinfeksi kandang dan lingkungan, namun merupakan suatu usaha yang terpadu dan berkesinambungan dari tingkat konseptual, struktural dan operasional.
    Meliputi tata letak, lokasi farm dan kandang, bangunan kandang, pemagaran serta bangunan pendukung seperti kantor, mess karyawan, gudang pakan atau telur, ruang ganti baju, car dip.
    Juga pola replacement yang all in all out.
    Lokasi farm yang tidak berdekatan dengan farm tetangga, hanya terdapat satu macam spesies unggas saja di lokasi, adanya pagar sekeliling farm yang memisahkan farm dengan lingkungan sekitar, dan pola pemeliharaan all in all out, akan mengurangi resiko munculnya kasus penyakit infeksius.
    Kasus Gumboro tidak bisa kita anggap enteng dan sepele, baik berat ataupun ringan akan merugikan farm kita.
    Tentunya dengan eliminasi faktor-faktor pencetus, sikap disiplin dan konsistensi dalam penerapan manajemen pemeliharaan seperti persiapan kandang yang baik, pemilihan DOQ yang berkualitas, menjalankan manajemen pemeliharaan yang sesuai stándar, penerapan biosekuriti yang konsisten, pemilihan jenis vaksin dan waktu vaksinasi yang tepat diharapkan bisa menekan bahkan menghilangkan kasus IBD di farm kita, sehingga kerugian ekonomis akibat IBD bisa kita hindari.
Penyakit Gumboro Pada Burung Puyuh